Hujan

 

Apa yang kalian rasakan saat hujan?

Pertanyaan sederhana sebenarnya, tak perlu jawaban yang panjang dan bertele-tele. Bukankah begitu? Akan kutanyakan kembali, apa yang kalian rasakan saat hujan?

 

Untukku pertanyaan ini adalah sebuah cara untuk bertanya kembali. Mengapa hal sederhana ini harus jadi pertanyaan yang patut untuk dijawab dan dibahas. Tapi tentu tidak setelah aku menikmati suasana mendung sore ini. Ternyata hujan punya makna khusus bagi setiap orang di muka bumi ini. Hujan tentu saja, suatu proses alam yang tidak asing untuk dirasakan dan dinikmati. Apakah ada orang di dunia ini yang tidak tahu tentang hujan?

Hujan menurutku adalah ketenangan. Hujan menurutku adalah sebuah tempat berteduh jika merasa lelah seharian bertaruh dengan hidup yang tak pasti ini. Hujan kian kuat memelukku di kala aku senang ataupun sedih, bahkan ketika merindukan seseorang dan bernostalgia di dalamnya. Tak sengaja aku membuka buku dan membacanya kala pagi itu. Aku merasa seakan hujan ingin membuatku nyaman dengan baris per baris, halaman per halaman dari tiap lembar buku yang aku baca. Dia memberiku kehangatan, yang entah cuaca lain akan memberikanku itu juga. Aku tidak berbicara soal gemuruh dan kilat yang juga kadang ikut serta saat hujan turun ke bumi. Entah mereka ada ataupun tiada, aku tetap menyukai hujan. Suara, bau, dan suasana yang dia timbulkan tidak akan tergantikan dengan suasana lain di muka bumi ini. ah terlalu berlebihan ya?

Saat mengendarai motor, aku melihat orang-orang lalu lalang dan mempercepat kelajuannya karena tidak ingin dibasahi hujan. Aku juga begitu, tentu saja. Tapi di beberapa momen dalam hidupku, hujan tak selamanya harus dihindari. Mencoba untuk memelankan laju kendaraanku, lalu melihat ke atas langit, merasakan indahnya suasana ini. Rintik-rintik hujan mulai membasahiku satu per satu. Rintik demi rintik. Aku basah. Aku baru mengerti, kenapa anak-anak atau bahkan diriku dulu ingin merasakan bermain di bawah air hujan. Ternyata seperti ini rasanya, bahagia.

Sore itu, entah kenapa aku dan teman-temanku sudah menyiapkan jas hujan. Memang saat itu, kota tempat aku tinggal sedang musim penghujan. Kami bahkan sudah tau hapal, kapan hujan akan turun hari ini, saking seringnya kami mengangkat jemuran yang belum kunjung kering. Jangan bayangkan betapa lelahnya jika pagi mencuci banyak pakaian dan siangnya harus mengangkat semua jemuran. Dan satu hal lagi, jangan bayangkan bau dari pakaian lembab kami, ah tidak suka pokoknya. Tapi, di momen itu, kami tidak menjadikan suasana jadi lebih menjegkelkan karena pakaian kami tidak pernah kering dalam kurun waktu satu atau dua hari. Itulah kenapa kami membeli jas hujan di supermarket dekat rumah kami. Kami berencana ingin mandi hujan.

 Jangan tanya, berapa umur kami saat itu. Kami adalah orang yang sudah cukup bisa dikatakan dewasa. Dua puluh. Ya, dua puluh tahun. Saat duduk di teras menikmati kuah soto ayam buatan ibu di kantin, hujan turun membasahi genteng. Suaranya makin keras. Astaga, enak sekali suasana ini. Hujan deras, kuah soto buatan ibu, bau secangkir kopi abang-abang yang sedang mampir, dan istimewanya lagi, kami akan bermain hari ini. Selepas makan, kami berlima keluar dan tidak sabar mengenakan jas hujan biru kami. Aneh, katanya mau mandi hujan, tapi kok pake jas hujan. Jawabannya singkat saja, biar tidak basah. Hahahaha.

“oke siap ya, satu dua tiga” teriak Ela memberikan kami aba-aba untuk berfoto dengan segenap suaranya. Kala itu, hujan memang benar-benar deras. Kami membungkus handphone kami ke dalam waterproof. Kami berlari seperti anak kecil. Kami tertawa lepas, entah karena bahagia, atau karena menertawakan tingkah konyol kami. Kami sangat sangat senang. Kami menari, meloncat-loncat, saling merekam, dan tidur di bawah hujan. Untung saja, tempat kami adalah kompleks kecil yang tidak mungkin dilalui orang banyak kecuali orang-orang yang tiggal di kompleks itu. Kami berlima seperti anak kecil sungguhan. Baru kali itu, aku meraskan mandi hujan yang sangat menyenangkan tanpa takut ayah akan memarahiku. Padahal kalau ayah tahu aku tidak akan basah jika mandi hujan memakai jas hujan. Pikirnya aku akan kedinginan setelah itu.

Kami masuk dan segera mandi sungguhan dan membungkus badan. Kami menyiapkan minuman hangat dan ada juga yang langsung minum sirup herbal agar tidak masuk angin. Sebenarnya kami sudah menyiapkan semua itu. Karena bermain di tengah kedinginan juga pasti tak kalah pentingnya untuk tetap menjaga kesehatan. Kalau boleh, aku ingin merasakan hujan sore itu lagi.

Kesimpulannya adalaah, sebenarnya aku suka hujan. Aku tidak bisa lagi menghitung sudah berapa banyak momen indah ataupun tidak indah dalam hidupku yang kulewati bersama hujan. Momen yang tak indah itu kemudian dijadikan indah oleh hujan. Menurutku hujan selalu membawa ingatanku akan hal-hal menyenangkan dan menenangkan dalam hidupku. Dia selalu mengingatkanku akan segala hal yang mungkin sudah aku lupakan. Hujan membuatku bernostalgia.

 

Lalu, apakah ada hal indah yang dilakukan hujan untukmu?

Comments