how to solve an anger
Entah kenapa aku sangat benci hari ini. Ini seperti bukan diriku yang ku kenal. Aku mulai mudah membenci sesuatu, bahkan hal kecil saja membuatku marah. Hari ini aku tidak ikut kelas online. Ya. AKU. Ini kali pertama dalam hidupku sebagai seorang mahasiswa. Aku tidak masuk. Permasalahannya adalah online. Kau tahu kan aku tidak punya data untuk masuk zoom karena di tempat tinggalku sudah disediakan wifi yang dibayar perbulan. Kenapa harus hari ini. Kenapa. Mati Lampu. Arggh aku sangat muak. Dua jam berlalu. Aku tidak menghadiri kelas. Aku tidak bisa mengatakan aku sedang sial. Saat ini rasanya hanya satu persen saja pikiran positif di kepalaku, sisanya negatif. Hah aku benci semua ini.
Kau tahu, aku menangis. Dasar cengeng. Aku berbaring di lantai dan menangis seperti anak kecil yang diambil permennya. Bahkan kakakku menertawakanku. Aku memang kekanak-kanakan. Sifatku ini memang sudah lama kutinggalkan. Aku bahkan tidak mengingat kapan terakhir kali aku seperti ini. Jengkel. Aaaa aku ingin berteriak sekencang kencangnya. Tapi disaat kemauan itu ingin segera bebas dari tenggorokanku, aku juga tidak bisa mengeluarkannya. Like I don't know. It's stuck.
Akhirnya dengan perlahan ku redakan semua amarah dihatiku, rasa gundah, kesal dan semua emosi negatif. Dasar aku. Aku ingat kalau sekarang aku sudah 12++++ entah apa yang akan dikatakan papaku kalau dia melihatku seperti ini. Bukannya aku sudah bertekad untuk menjadi orang yang bijak dan dewasa? Ya aku memang. Tapi butuh sedikit usaha. Tidak. Pasti banyak. Yaa karena kalau sedikit usaha pasti hasilnya tidak akan memuaskan.
Hahaha
Saat aku berbaring tadi sambil menangis, diwaktu yang sama aku juga tertawa. Dan sekarang aku hanya senyum-senyum tanpa alasan. Bodohnya. Bagaimana bisa seorang sepertimu bertingkah seperti ini. How if your friends got to see you. You must be laughing at.
Istighfar.
Kunci dari segala masalahku. Ketika hati dan pikiranku seakan ingin meledak bleurrr. Aku segera mengingat kata ini. Astagfirullahalazim. Aku bergegas mencari benda yang sering ku bawa di mana pun aku pergi. Lalu ku pasangkan di salah satu jariku. Astagfirullahalazim.....
Aku sadar, iblis benar-benar merasuki pikiranku dan menjadikannya pikiran-pikiran yang tidak baik.
Wajah yang tadi cemberut menggerutu kini padam digantikan dengan senyum yang menyadari kesalahan yang baru saja kulakukan. Tadi itu aku mengutuk segala hal, kenapa harus online, mati lampu, yang jual pulsa juga abis, pokoknya semuanya. Aku tahu itu separuhnya bukan diriku.
Kau tahu, sekarang aku benar-benar merasa bersalah dan menyesal bertingkah demikian. Aku seharusnya tidak menyalahkan orang lain. Aku seharusnya bisa menasehati diriku sendiri untuk lebih tenang, bijak, dan selalu berprasangka baik. Andai saja aku sudah membeli pulsa kemarin", pasti tidak akan seperti ini. Itu yang ku katakan satu jam yang lalu. Dan kini kusesali. Bukankah ini sudah menjadi takdir-Nya? Sepertinya diriku saja yang tidak memikirkannya tadi. Pasti selalu ada hikmah dari hari ini.
Terima kasih telah mendengar curhattan bacotku, dydy
I'll make this a lesson for today and until whenever.
(21 Feb 2022 11.53 pm)
Kau tahu, aku menangis. Dasar cengeng. Aku berbaring di lantai dan menangis seperti anak kecil yang diambil permennya. Bahkan kakakku menertawakanku. Aku memang kekanak-kanakan. Sifatku ini memang sudah lama kutinggalkan. Aku bahkan tidak mengingat kapan terakhir kali aku seperti ini. Jengkel. Aaaa aku ingin berteriak sekencang kencangnya. Tapi disaat kemauan itu ingin segera bebas dari tenggorokanku, aku juga tidak bisa mengeluarkannya. Like I don't know. It's stuck.
Akhirnya dengan perlahan ku redakan semua amarah dihatiku, rasa gundah, kesal dan semua emosi negatif. Dasar aku. Aku ingat kalau sekarang aku sudah 12++++ entah apa yang akan dikatakan papaku kalau dia melihatku seperti ini. Bukannya aku sudah bertekad untuk menjadi orang yang bijak dan dewasa? Ya aku memang. Tapi butuh sedikit usaha. Tidak. Pasti banyak. Yaa karena kalau sedikit usaha pasti hasilnya tidak akan memuaskan.
Hahaha
Saat aku berbaring tadi sambil menangis, diwaktu yang sama aku juga tertawa. Dan sekarang aku hanya senyum-senyum tanpa alasan. Bodohnya. Bagaimana bisa seorang sepertimu bertingkah seperti ini. How if your friends got to see you. You must be laughing at.
Istighfar.
Kunci dari segala masalahku. Ketika hati dan pikiranku seakan ingin meledak bleurrr. Aku segera mengingat kata ini. Astagfirullahalazim. Aku bergegas mencari benda yang sering ku bawa di mana pun aku pergi. Lalu ku pasangkan di salah satu jariku. Astagfirullahalazim.....
Aku sadar, iblis benar-benar merasuki pikiranku dan menjadikannya pikiran-pikiran yang tidak baik.
Wajah yang tadi cemberut menggerutu kini padam digantikan dengan senyum yang menyadari kesalahan yang baru saja kulakukan. Tadi itu aku mengutuk segala hal, kenapa harus online, mati lampu, yang jual pulsa juga abis, pokoknya semuanya. Aku tahu itu separuhnya bukan diriku.
Kau tahu, sekarang aku benar-benar merasa bersalah dan menyesal bertingkah demikian. Aku seharusnya tidak menyalahkan orang lain. Aku seharusnya bisa menasehati diriku sendiri untuk lebih tenang, bijak, dan selalu berprasangka baik. Andai saja aku sudah membeli pulsa kemarin", pasti tidak akan seperti ini. Itu yang ku katakan satu jam yang lalu. Dan kini kusesali. Bukankah ini sudah menjadi takdir-Nya? Sepertinya diriku saja yang tidak memikirkannya tadi. Pasti selalu ada hikmah dari hari ini.
Terima kasih telah mendengar curhattan bacotku, dydy
I'll make this a lesson for today and until whenever.
(21 Feb 2022 11.53 pm)
Comments