Cara Allah Menyapa Lewat Percakapan Sederhana

Malam ini aku kedatangan tamu. Tamu yang sebenarnya sudah aku kenal, sepupuku sendiri. Kami bercerita panjang lebar, dari hal-hal ringan sampai akhirnya nyambung ke soal jurusan kuliah. Papah tiba-tiba bilang, dia suka kalau ada orang yang bisa bicara di depan umum. Spontan, sepupuku menunjuk ke arahku dan bilang, “Nih, jurusannya Aysha kayak gitu. Di situ diajari semuanya, jadi MC, presenter, pembawa acara, dan sebagainya.” Aku cuma bisa tersenyum. Bukan karena merasa hebat, tapi justru karena merasa malu. Entah kenapa, hatiku agak kikuk. Dalam pikiranku, aku belum bisa apa-apa seperti yang dia bilang.

Sepupuku memang keren. Dia bisa bicara di depan umum, pernah jadi MC di acara pernikahan pula. Aku kagum banget, gila woi, dalam hati aku bilang begitu (tentu dalam arti kagum, bukan yang berlebihan). Aku cuma terpana, “Masya Allah, Allah keren banget ya, bisa kasih kemampuan itu ke dia.” Tapi kemudian, aku terdiam. Aku sadar, mungkin pertemuan malam ini bukan kebetulan. Mungkin Allah memang punya maksud lain lewat kedatangannya. Mungkin selain datang bertamu, Allah ingin mengingatkanku lewat dia bahwa aku sebenarnya juga punya potensi yang sama. Hanya saja, potensi itu belum benar-benar tergali. Mungkin Allah mau bilang, “Ayo, bangkit lagi. Kamu bisa. Bahkan mungkin lebih dari yang kamu pikirkan.” Aku merasa Allah sedang kasih aku pengingat bahwa aku harus lebih berusaha dari sebelumnya, dan harus kembali fokus pada hal yang paling penting saat ini: kuliah.

Beberapa hari lagi, tepatnya lusa, aku akan kembali ke Palu. Sendiri. Dan aku pikir, ini kesempatan buatku untuk mencoba lagi, untuk berani lagi, untuk belajar lebih dalam lagi. Aku tahu, tinggal sendiri kadang terasa sepi dan agak menyeramkan, tapi aku mau melihatnya sebagai peluang—kesempatan buatku melatih kemampuan yang selama ini tertahan karena rasa malu. Aku bisa latihan bicara pakai mic, bisa rekaman tanpa takut ada yang dengar. Aku bisa fokus tanpa khawatir dilihat orang. Selama pikiranku positif, niatku baik, dan hatiku dekat dengan Allah, insya Allah, sepi itu akan berubah jadi tenang. Sunyi itu akan berubah jadi damai.

Malam ini aku berdoa. Semoga Allah selalu kasih aku kesehatan, kesempatan, umur panjang, pengalaman yang banyak, kemampuan yang luas, dan nikmat yang tak terhitung. Karena sungguh, nikmat Allah itu tanpa batas. Aku juga berdoa semoga aku selalu diingatkan untuk dekat dengan-Nya, dzat yang memiliki seluruh dunia dan segala isinya. Ya Allah, pinjamkan aku kemampuan, kecerdasan, dan keberanian untuk bisa bicara di depan umum. Pinjamkan aku kelancaran untuk menulis dan menyampaikan ilmu yang bermanfaat. Izinkan aku menjadi seseorang yang bisa membawa manfaat, motivasi, dan inspirasi bagi banyak orang di muka bumi ini.

Terima kasih, ya Allah, untuk semua yang telah Kau kirimkan sebagai pengingat dan pelajaran hidup. Dan malam ini, aku hanya ingin mengulang satu kalimat yang menenangkan hatiku, Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil ‘aẓīm, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.


Comments