I'm (NOT) gave up
Saat in aku sedang menatap layar laptopku. Aku mencoba memikirkan apa yang ingin aku lakukan. Kadang aku seperti itu, lupa ingin melakukan apa. Mungkin saja aku benar-benar gabut dan hanya ingin membukanya. Tapi untungnya sekarang aku mengingatnya. Aku ingin mengetik, dan bercerita lagi. Tiba-tiba saja ide ini datang saat aku membuka Chrome, aku biasanya menulis blog lewat Chrome. Dan saat ini aku sedang mengetik yang sedang kalian baca.
Mungkin yang orang-orang katakan memang benar. Malam adalah waktu yang tepat untuk berpikir, ya berpikir. Tentang segala hal. Dan sekarang aku sedang memikirkan diriku sendiri. Aku, aku ingin terus melangkah dan tidak ingin berhenti. Aku masih muda, dan kalian juga masih muda. Aku tidak tahu apa yang kalian pikirkan disaat kalian membaca tulisan ini. Aku ingin bertanya, sudah berapa kali kalian ingin menyerah? Terserah menyerah tentang apa. Kalau aku, sudah banyak kali.
Aku mesti percaya dengan yang aku lakukan sekarang, dan sungguh-sungguh menjalaninya. Benar begitu bukan? Tapi, kadang itu sulit. Kata menyerah sering kali terlintas di kepalaku, walaupun hanya sesaat. Aku berusaha untuk bisa mengabaikaannya. Tapi apa boleh buat, menyerah itu pasti akan selalu datang. Sebelum memutuskan itu, aku lagi-lagi berpikir, bukankah jalan yang aku ambil sudah terlalu jauh? Bukankah sia-sia saja untuk berhenti dan menyerah begitu saja. Aku sangat menghargai perjuanganku dan usahaku, juga orang-orang disekitarku. Kalau sekarang aku memilih untuk menyerah, lalu kenapa aku memulai semua ini?
Aku berpikir sebentar ...
Mungkin, kata "menyerah" akan lebih baik jika aku menggantinya dengan kata "istirahat". Ya, aku pikir begitu. Aku ingin beristirahat sebentar, dari semuanya. Lalu aku ingin bangkit lagi, dan memulai lagi. Aku ingat salah satu judul buku, Tidak Apa Tuk Memulai Lagi. Aku tidak pernah membacanya, tapi yang aku tahu, katanya, manusia itu tidak akan pernah bisa konsisten. di hari ini bisa, tapi mungkin di hari lain tidak bisa. Jadi manusia itu bisanya adalah berkomitmen. Sejauh mana, dan sekuat apa komitmen terhadap suatu hal, maka ia pasti bisa untuk meraih yang dia inginkan. Oleh karena itu, kalau kadang ngerasa down, nggak apa-apa kok hari ini nggak ngerjain apa apa, pengen healing dulu sebentar, atau istirahat aja dari riuhnya dunia. Dan besok, mulai lagi dengan cara yang baru.
Kadang yaa, aku marah dengan diriku. Kenapa sih nggak bisa kaya orang-orang? Padahal ya, aku dan mereka itu beda. Aku punya caraku sendiri, dan mereka pun begitu. Daripada ribet mikirin itu semua, aku pengen berdamai dengan apa adanya diriku saat ini. Aku ingin tahu lebih dalam tentang diriku. Apa kelemahanku, kecakapanku, dan apa impianku.
Masa muda gini, apa sih yang selalu terlintas dipikiran kamu? Cowo? Pacaran? Atau, style ke kampus besok apa ya, biar bisa di lihat si .... Aku tidak tahu. Yang tahu itu kamu sendiri. Tahu nggak, tanpa kita sadari hari-hari kita, banyak kita habiskan untuk memikirkan orang lain. Diri kita? Blakangan aja deh. Apakah kita pernah berpikir dan bertanya, Apakah aku senang melakukan ini? Apakah aku berhak mendapatkan perlakuan ini? Atau, apakah aku harus memikirkan (sesuatu) ini saat ini? Seharusnya kita tahu, apa yang benar-benar harus kita pikirkan. Tanpa menguras banyak energi untuk sesuatu yang sama sekali di luar kendali kita, yaitu orang lain.
Emm, sekarang aku baru saja dapat pesan dari teman. Dia bilang, dia sudah tidak semangat lagi. Bukan tidak semangat untuk hidup, hahhah jangan sampai. Dan sekarang, aku rasa ini topik yang tepat di tulisanku kali ini. Aku rasa, jawaban yang tepat untukny adalah, kembali menyemangatinya. Meskipun aku juga tidak tahu apakah dia akan kembali semangat atau tidak. Aku hanya mengatakan apa yang bisa ku katakan. Aku sadar, ternyata bukan hanya semangatku saja yang kadang naik turun, datang dan pergi, hm udah kaya lagu juga. Intinya ya, rasa ingin berhenti itu ada. Jenuh itu ada, dan bosan? Tentu saja. Apalagi kalau yang dilakukan belum membawakan dampak apa-apa. Pasti rasanya ingin menyerah saja.
Saat membalas pesannya, aku pun berpikir, dia ada di luar kendaliku. Meskipun dia temanku, tapi aku tidak bisa memaksanya bukan? Dia juga punya hak untuk memilih, sementara aku? Aku hanya bisa memberikan afirmasi dan kata-kata penyemangat. Itu saja, tidak lebih dari cukup. Bahkan di saat bersamaan, teman yang lain juga mengirimkan ku pesan, dia bilang, coba berikan aku motivasi. Hmm, lagi-lagi aku berpikir. Okee, baiklah aku akan berusaha memberikan itu.
Tidak masalah bagiku untuk memberikan itu. Aku senang rasanya bisa berbagi energi positif. Dan aku berharap bisa menjadi orang yang positif. Aku senang jika kata-kataku bahkan tulisan-tulisan ini bisa membuat orang lain bangkit lagi dari perasaan "ingin menyerah"
Oh ya, aku juga yakin, mungkin saja niat itu perlu diperbaiki kembali. Jika ingin memulai sesuatu, bukankah semua berawal dari niat? Bisa jadi, perasaan ingin menyerah ini selalu ada karena niatku yang sebenarnya salah. Ada satu kebiasaan yang aku terapkan saat ini. Biasanya sebelum pergi ke kampus, aku selalu berdoa agar semua kegiatanku di hari itu lancar. Dan aku berniat semoga semua aktifitas yang aku lakukan adalah untuk mendapat pahalanya Allah, untuk orang tua, untuk mendapat ilmu, pengalaman, pelajaran yang bisa membawaku menjadi orang yang setidaknya bermanfaat, itu saja.
Btw, Aku juga pengen tahu nih. Apa yang kamu lakukan disaat kamu ingin menyerah? Mungkin aja jawaban kamu, bisa lebih banyak membantu aku dan teman-teman lain yang sedang membacanya.
Satu lagi, kalau kamu ingin menyerah, coba diam dulu sejenak dan tanya. Kenapa aku ada di sini? Kenapa aku harus memulai kalau sekarang ingin berhenti? Mungkin saja ada yang harus aku perbaiki?
Ingat yaa,
Tak apa tuk memulai lagi
Salam hangat,
Aysha
Comments