A Chapter That Still Feels Like Home

Kali ini, aku kembali bernostalgia tentang Hannah, tempat magang yang menjadi awal dari kisah paling indah di tahun 2024. Aku tidak ingin bilang bahwa tak ada hal lain yang indah selain Hannah, tapi mungkin… dia adalah momen yang paling membekas. Momen yang masih saja membentuk senyum kecil di bibirku setiap kali kuingat.

Kami bertiga saat itu hanyalah anak-anak yang lugu, yang sangat takut untuk mengambil beban dari dunia kerja. Tapi takdir membawa kami ke sana. Siang itu, kami datang mengantarkan surat penerimaan magang ke Hannah. Disambut dengan hangat, disapa, lalu langsung di-training hari itu juga. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya kami bertemu seseorang yang katanya tegas dan tidak banyak bicara, Rendy. Sekarang kami memanggilnya Kak Rendy. Kesan pertama? Jutek, tanpa basa-basi, dan langsung memberi instruksi. Namanya juga mentor, pikirku waktu itu. Penjelasannya singkat, to the point, tentang pekerjaan dan tanggung jawab kami selama satu semester ke depan.

Namun ternyata, tidak sampai sebulan kemudian, pandangan kami mulai berubah. Kak Rendy tidak lagi terlihat seperti orang yang kami kira di awal. Ia mulai sering mengobrol, bercanda, kadang tetap memerintah juga, tapi entah mengapa semuanya terasa lebih hangat. Tak jarang kami bertengkar kecil-kecilan dengannya, lalu akhirnya kembali berbaikan lagi. Dan setelah itu aku sadar, mungkin dia bukan hanya sekadar mentor, tapi juga sosok kakak bagi kami bertiga yang lugu, acuh tak acuh, dan kekanak-kanakan ini.

Aku bahkan tidak mengerti kenapa semakin hari, semakin dekat kami dengan perpisahan dari Hannah yang kami anggap seperti rumah, hubungan kami dengan Kak Rendy justru terasa lebih akrab dan informal. Semuanya berbeda dari awal. Mungkin saking akrabnya, semua hal terasa lebih ringan untuk diceritakan. Hal-hal kecil pun akan kami tanyakan lagi, mungkin hanya untuk mendapatkan validasi bahwa kami telah menjadi orang yang lebih baik dari diri kami sebelumnya.

Lalu ada Kak Itje, orang yang sangat kami hormati. Sosok yang tidak pernah berhenti belajar, berbagi, dan selalu menjadi orang yang paling mengandalkan kami bertiga saat itu.
Mungkin saat ini, kami paling merindukan briefing pagi, dzikir pagi, kata-kata afirmasi, dan terobosan-terobosan baru yang selalu saja ada setiap harinya. Ia tidak pernah kehilangan makna dalam tujuan hidupnya. Kadang, aku juga rindu dengan suaranya, dengan kecekatannya dalam menangani pekerjaan, bahkan rindu dengan suasana rumahnya.
Entahlah, ada sesuatu yang menenangkan di sana.

Dan tentu saja, Kak Nurul, orang yang dengan sabar berbagi kamar, kasur, tempat makan, dan tempat sholat dengan kami. Aku sering bertanya-tanya, sedamai apa kamarnya jika kami tidak ada, hahaha. Ia menjadi saksi dari tawa kami, godaan-godaan kecil, keluhan, dan segala kekonyolan yang kami lakukan setiap hari. Kadang kami saling diam karena kesal, menciptakan suasana tegang di kamar, tapi tidak pernah lama. Setelah itu, kami pasti berbaikan dan tertawa lagi. Kak Nurul selalu sabar, seperti kakak yang diam-diam tersenyum melihat tingkah adik-adiknya ini.

Yah, aku sangat bernostalgia dengan semuanya, suasana, udara, halaman, dan orang-orang yang pernah kami temui saat berada di Hannah. Semuanya terasa sangat indah.

Dulu, aku tahu bahwa untuk melalui satu hari saja rasanya sangat sulit. Tapi bukankah itu yang disebut dengan bertumbuh? Kami belajar memperluas zona nyaman kami. Dalam waktu yang singkat itu, kami belajar memimpin, belajar tanggung jawab, belajar branding diri, dan lebih dari itu, kami belajar tentang arti hidup yang sebenarnya. Bekal yang hingga kini kami bawa untuk memahami arti persahabatan, kerja keras, dan... kedewasaan.

Aku rasa, jauh di lubuk hati kami yang paling dalam, kami sangat merindukan versi diri kami saat itu. Jadi, apakah mereka hanya orang-orang yang sekadar singgah di hidup kami untuk memberikan pengalaman, ilmu, dan pelajaran? Tentu saja. Mereka adalah orang-orang yang akan selalu kami ingat, karena telah berjasa mendidik kami menjadi diri kami yang saat ini.

Dan untuk kami bertiga, ada hal yang ingin aku katakan, really proud of youAku beruntung mendapat kalian di sisiku. Aku masih ingat hal-hal sederhana yang membuat kita tertawa mungkin justru itu yang menjadikan kita akrab dan memiliki ikatan emosional yang begitu dalam. Ternyata, kita bertiga memang sefrekuensi. Ya, setidaknya untuk saat ini. Karena aku tahu, seperti halnya orang-orang di Hannah yang kini kusimpan sebagai bagian dari cerita masa lalu, mungkin saja pertemanan kita juga akan begitu,  perlahan menjadi kenangan yang manis. Mau tidak mau, kita pasti akan menghadapi kenyataan hidup itu: berpisah dengan teman.

Aku tahu pasti, rasanya akan sedih. Kadang aku membayangkan kita bertiga memakai salempang yang sama, dengan gelar di ujung nama masing-masing. Dan saat itu tiba, aku akan menjadi orang yang paling bangga. Jujur saja, di balik pekerjaan yang berat, selalu ada kalian yang tanpa sengaja bisa menghiburku dan membuatku menertawakan dunia. Aku selalu percaya, Tuhan pasti punya alasan mengapa kita masih berteman dan masih sering berusaha mencari waktu meski kini kita sudah tidak lagi berbagi hari dan pekerjaan yang sama. Mengapa kita masih saja ingin bersenang-senang, melepas rindu, dan tetap bersama dengan kekonyolan yang hanya kita yang mengerti. Tidak ada hari yang lebih menyenangkan dibanding tertawa dan bercerita bersama kalian. Aku harap, setelah melewati cerita yang panjang ini, kita tetap saling mengingat, mungkin lima atau sepuluh tahun dari sekarang.

Kenang selalu ya, hari-hari itu. 

Hannah, us, and home

 

Comments